Perpustakaan ‘Marsela’, Ikon Baru Kebanggaan Nasional

Oleh Agus Rifai

Lebih dari sepekan yang lalu, tepatnya tanggal 17 Mei 2020, Perpustakaan Nasional RI memperingati Hari Jadi ke 40. Perpustakaan Nasional RI yang berlokasi di Jalan Merdeka Selatan (Marsela), Jakarta Pusat dengan gedung yang memiliki 24 lantai tersebut konon disebut-sebut sebagai gedung perpustakaan nasional tertinggi di dunia. Gedung tersebut selain terletak di kawasan elit dan strategis yang berdekatan dengan istana kepresidenan, Monumen Nasional atau Monas, Museum Nasional, dan stasiun Gambir, juga memiliki desain fisik dan ruang perpustakaan dengan anasir artistik modern dengan memadukan unsur intelegensia dan ke-Indonesiaan. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika Perpustakaan ‘Marsela’ ke depan dapat menjadi destinasi wisata intelektual bagi masyarakat Indonesia dan dunia sekaligus menjadi ikon baru kebanggaan nasional, kebanggaan bangsa Indonesia.

Perpustakaan ‘Marsela’
Nama ‘Marsela’ merupakan kependekan dari nama jalan tempat atau lokasi perpustakaan berada, yaitu Jalan Medan Merdeka Selatan. Sengaja penulis menyebutnya sebagai Perpustakaan ‘Marsela’, dan bukan Perpustakaan Nasional. Penyebutan ini tidaklah semata-mata karena alasan lokasi, akan tetapi ada alasan yang lebih substantif jika dibandingkan harus menyebutnya sebagai Perpustakaan Nasional. Tentu, bukan maksud saya menafikan peran dan kontribusi Perpustakaan Nasional secara kelembagaan dalam pembangunan gedung fasilitas layanan ini. Saya hanya ingin memberikan ‘makna’ dalam pembangunan gedung fasilitas layanan ini dalam konteks kepustakawanan.

Pertama, jika kita membaca literatur kepustakawanan tentang perpustakaan nasional (national library), sesungguhnya perpustakan nasional dirancang bukan untuk memberikan ‘layanan’ dalam pengertian yang umum. Perpustakaan nasional dimaksudkan untuk menyimpan dan memelihara khazanah bangsa, baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan termasuk terbitan pemerintah itu sendiri.[ ] Dalam hal ini, kita mesti membedakan fungsi perpustakaan nasional dengan fungsi perpustakaan jenis lainnya seperti perpustakaan umum, perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi, serta perpustakaan khusus atau kedinasan. Meskipun antara negara satu dengan lainnya mungkin berbeda dalam memfungsikan suatu perpustakaan nasional, akan tetapi secara umum seperti dijelaskan dalam dokumen IFLA Seksi Perpustakaan Nasional (National Libraries Section) bahwa perpustakaan nasional mengumpulkan semua terbitan nasional, tercetak dan elektronik melalui peraturan deposit, mengelola dan memelihara koleksi tersebut, menyediakan pusat layanan, mempromosikan warisan khazanah budaya bangsa, dan menjadi garda depan dalam kampanye keberaksaraan.[ ]

Oleh karena itu, konteks layanan bagi perpustakaan nasional harus dipahami dalam kaitannya dengan fungsi utamanya sebagai perpustakaan deposit. Jikapun terdapat layanan yang ditawarkan di luar fungsi utamanya tersebut, harus dilihat sebagai layanan pendukung (supporting service). Keberadaan Perpustakaan ‘Marsela’ dalam hal ini harus dipahami sebagai layanan pendukung yang merupakan ‘jendela baru’ bagi Perpustakaan Nasional untuk melihat fungsi perpustakaan secara umum.

Kedua, sebagaimana dirasakan ketika peresmian gedung fasilitas layanan, Perpustakaan ‘Marsela’ merupakan semangat dan simbol baru yang bukan saja untuk memperbaiki citra diri, akan tetapi untuk menuju era kebangkitan kepustakawanan Indonesia. Setidaknya Perpustakaan ‘Marsela’ bisa menjadi rumah bersama bagi para penggiat perpustakaan dan literasi untuk bersama-sama membangun bangsa Indonesia yang cerdas dan berkeadaban. Apa yang pernah ditulis oleh Sardar dan Davies [ ] tentang kontribusi perpustakaan pada abad pertengahan harus direkonstruksi dari Perpustakaan ‘Marsela’. Oleh karena itu, menurut hemat saya, Perpustakaan ‘Marsela’ tidak dimaknai sebagai bentuk layanan dan fungsi dari Perpustakaan Nasional, akan tetapi sebagai upaya strategis dan politis dalam membangun kepustakawanan Indonesia.

Kebanggaan Nasional
Selama ini keberadaan perpustakaan lebih sering termarjinalkan. Sebagai simbol pengetahuan dan peradaban, perpustakaan belum mendapat apresiasi yang tinggi di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Lihatlah bagaimana kondisi perpustakaan-perpustakaan di semua jenis yang sebagian besar masih di bawah standar penyelenggaraan. Kondisi ini merupakan ironi bagi bangsa yang ingin maju. Dalam sejarah bangsa-bangsa, hanya mereka yang menghargai pengetahuan yang dapat menjadi bangsa maju. Bangsa yang menempatkan perpustakaan sebagai simbol kebanggaan.

Cukuplah kita membaca salah satu sejarah di abad pertengahan, saat umat Islam mengalami zaman keemasan yang dikenal dengan the golden age of Islam. Bagaimana umat dan negara menempatkan perpustakaan sebagai kebanggaan bangsa. Di negara yang mayoritas muslim, seharusnya kita bisa belajar dari sejarah, bagaimana umat muslim mengembangkan perpustakaan sebagai bagian dalam membangun peradaban bangsa.

Jika kita membaca literatur sejarah peradaban Islam, kita akan menemukan beberapa pelajaran penting dalam  pengembangan perpustakaan, khususnya dalam kontek kebangsaan.  Pelajaran penting  untuk kita renungkan adalah menjadikan perpustakaan sebagai simbol kebanggaan, kebanggaan bagi segenap lapisan masyarakat dan bangsa. Jika kita menyaksikan bagaimana para pemimpin dan penguasa negeri kita membanggakan pembanguan pusat-pusat bisnis seperti mall, sesungguhnya umat muslim dari berbagai kalangan termasuk para pemimpin dan penguasa muslim pada masa lalu telah menjadikan perpustakaan sebagai simbol kebanggaan. Para ilmuwan muslim telah menjadikan buku-buku koleksi pribadinya menjadi perpustakaan-perpustakaan yang dapat digunakan oleh para pelajar dan peminat ilmu pengetahuan. Para penguasa juga berlomba-lomba membangun perpustakaan sebagai kebanggaan negeri. Mereka rela menganggarkan biaya yang tinggi untuk pengembangan perpustakaan.

Untuk penjelasan ini, penulis ingin kembali mengajak untuk membuka buku sejarah. Dalam salah satu karyanya, Dzuhr al-Islam, Ahmad Amin (1984) menyebutkan bahwa pada setiap amir (gubernur) terdapat perpustakaan besar yang menjadi kebanggaan dan berusaha untuk mengembangkannya. Bukan hanya pejabat atau penguasa, menurut Al-Abrasyi (1993), orang-orang kaya atau hartawan juga banyak mendirikan perpustakaan-perpustakaan yang cukup mewah dan lengkap guna menyediakan fasilitas bagi masyarakat dan para penuntut ilmu untuk mengambil manfaat dari perpustakaan yang didirikan. Para hartawan tersebut bahkan tidak jarang menyediakan berbagai fasilitas seperti alat-alat tulis dan makanan yang diperlukan oleh para pengunjung perpustakaan.

Kebangggan terhadap perpustakaan sesungguhnya berakar dari kesadaran umat akan pentingnya ilmu pengetahuan dalam membangun peradaban bangsa. Dalam hal ini penulis ingin mengutip kembali tulisan dalam literatur sejarah Islam tentang bagaimana perhatian dan penghargaan masyarakat dan pemerintah terhadap ilmu pengetahuan yang menunjukkan hal luar biasa. Penghormatan masyarakat terhadap para cendekiawan atau ulama, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan telah mendorong untuk berkembangnya perpustakaan. Mehdi Nakosteen (1996) dalam karyanya tentang perpustakaan sebagai pusat pendidikan dalam Islam menyebutkan sebagai berikut:
Semua muslim, baik kaya ataupun miskin, penguasa maupun rakyat biasa, Persia atau Arab, dan tua atau muda, telah menunjukkan penghormatan yang besar terhadap cendekiawan. Namun lebih besar penghormatan mereka terhadap karya-karya ilmu pengetahuan atau masterpies yang berkenaan dengan kesusastraan. Kepadanya sekaligus, ketika buku-buku disalin dengan tulisan tangan oleh para penyalin khusus, kesetiaan kepada buku-buku terkenal, nyaris sama dengan kesetiaannya terhadap religiusitas, hal-hal yang bersifat mistik“.

Dalam konteks ini, tentu kita harus belajar bagaimana perpustakaan harus menjadi kebanggaan dan sekaligus perhatian semua warga masyarakat yang bersumber dari penghargaan terhadap ilmu pengetahuan. Segenap komponen masyarakat dan pemerintah harus memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam mewujudkan perpustakan sebagai kebanggan bangsa. Meskipun demikian, komitmen dari pimpinan seperti tercermin dari sikap para penguasa masa dulu merupakan langkah awal yang harus dimulai dan ditunjukkan. Selajutnya para warga masyarakat dituntut untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai orientasi keilmuan dan menjadi bagian dari tradisi yang dikembangkan. Jika tradisi keilmuan ini telah hidup maka perpustakaan sebagai basis intelektual akan terwujud. Oleh karena itu, penting menjadikan perpustakan menjadi kebanggaan dan sekaligus untuk membangun tradisi keilmuan seperti ditunjukkan oleh para pioner peradaban.

Sungguh, penulis sangat ingin melihat dengan perasaan yang bangga para pimpinan negeri ini mengajak setiap tamu yang mengunjungi negeri tercinta, baik dari dalam maupun luar negeri untuk berkeliling ke perpustakaan dan menunjukkan kemegahan perpustakaan. Tentu hal ini tidak semata-mata karena fisik gedung perpustakaan yang mewah, sistem perpustakaan yang modern, atau koleksi perpustakaan yang lengkap, akan tetapi menunjukkan kepada setiap orang bahwa perpustakaan inilah basis peradaban bangsa. Tanpa perpustakaan sesungguhnya negeri ini akan mati, dan peradaban manusia akan lenyap. Inilah tempat di mana benih-benih ilmu pengetahuan disemai sekaligus juga disimpan untuk diwariskan kepada generasi mendatang. Inilah tempat para ilmuan, para intelektual, para pembelajar berkumpul untuk menggali ilmu, berdiskusi dan berargumen serta berbagi tentang pelbagai persoalan keilmuan. Inilah perpustakaan-perpustakaan Islam sebagaimana yang pernah kita pelajari dari sejarah, yang kita mimpikan untuk membangun peradaban umat manusia. Penulis yakin bahwa Perpustakaan Nasional RI dengan simbol perpustakaan ‘marsela’-nya dapat menjadi simbol kebanggaan baru bagi bangsa Indonesia ke depan.

Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya kita membaca kembali satu kutipan dari Sheldon, bahwa “Libraries store the energy that fuels the imagination. They open up windows to the world and inspire us to explore and achieve, and contribute to improving our quality of life. Libraries change lives for the better.”, bahwa perpustakaan menyimpan energi yang menggerakan imajinasi. Perpustakaan merupakan jendela dunia yang menginspirasi kita untuk menggapai dan mengeksplorasi serta berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup kita. Perpustakaan mengubah kehidupan menjadi lebih baik. [ ]

Penulis adalah Pustakawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (email: agus.rifai@uinjkt.ac.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + 4 =