Penulis: Rizky Catur Utomo, S.Hum.
Pendahuluan
Virus Corona atau yang memiliki nama resmi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) terus membuat panik warga di sejumlah negara. Virus ini menyebabkan wabah yang menyebar dari kota Wuhan, Tiongkok sampai kota dan negara lain termasuk Indonesia. Kecepatan wabah yang disebut Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) dalam penyebarannya membuat World Heart Organization pada tanggal 11 Maret 2020 memutuskan untuk menyatakan sebagai pandemi. Dalam pernyataannya dikatakan, dalam dua minggu jumlah kasus dari ini di luar Tiongkok telah meningkat 13 kali lipat, dan jumlah negara yang terkena dampak telah meningkat tiga kali lipat. Ada lebih dari 118.000 kasus di 114 negara dan 4.291 orang di antaranya meninggal dunia.[1]
Wabah ini juga menyerangsejumlah tokoh dunia seperti Pangeran Charles Putra Mahkota Kerajaan Inggris, Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton, dan Wakil Presiden Iran Urusan Perempuan dan Keluarga Masoumeh Ebtekar. Di Indonesia sendiri telah ada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana, Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana, dan Wali Kota Bogor Bima Arya yang menjadi koran. Selain karena jumlahnya, terserangnya sejumlah tokoh juga membuat Covid-19 terus diberitakan media massa. Walaupun tidak hanya tentang korban, panduan untuk pencegahan kini juga banyak dibuat dan disebarluaskan. Tingginya atensi membuka kemungkinan munculnya berbagai publikasi terkait Covid-19. Sebagian publikasi bisa saja menjadi bahan perpustakaan dan harus diolah oleh pustakawan menjadi sebuah metadata. Oleh karena itu, perlu dipahami notasi Dewey Decimal Classification (DDC) yang dapat diberikan untuk koleksi terkait Covid-19.
Covid-19 (Coronavirus Disease 2019)
Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa Corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan seperti pilek sampai penyakit berat seperti MERS dan SARS. Penyakit memiliki gejala berupa demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celcius, batuk, dan sesak napas. Gejala akan semakin berat jika pasien tersebut sudah dalam masa usia lanjut dan mempunyai menderita penyakit lain seperti paru obstruktif menahun atau jantung.[2]
Virus dapat menyebar secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, virus menyebar melalui percikan batuk atau napas orang terinfeksi. Percikat tersebut selanjutnya terhirup orang yang sehat dan masuk pada sistem pernapasannya. Sementara secara tidak langsung, virus menyebar melalui benda-benda yang tercemar. Tercemar dalam hal ini, benda tersebut telah terkena percikan dari orang yang terinfeksi. Pada permukaan benda tersebut, virus dapat bertahan beberapa jam hingga berhari-hari. Benda tersebut lalu disentuh oleh orang lain yang belum terinfeksi. Walaupun begitu, resiko penularan dapat dikurangi dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menghindari bersalaman, dan saling mencium pipi[3]
Per tanggal 29 Maret 2020, dicantumkan pada laman Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia bahwa wabah ini telah mencapai 512.701 kasus dan menyebabkan kematian pada 23.495 orang dari berbagai negara. Di Indonesia sendiri, telah ada 1.155 kasus yang menyebabkan 102 meninggal dunia, termasuk di antaranya beberapa tenaga medis yang tertular saat menjalankan tugas.[4]
Notasi
Notasi diberikan pada melalui klasifikasi menggunakan Dewey Decimal Classification karya Library of Congress. Menurut Zulfikar Zen, DDC dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Bagan (Schedules), Indeks (Index), dan Tabel (Tables). Pada bagian bagan ini notasi untuk semua bidang ilmu pengetahuan dibuat berdasarkan klasifikasi sistem hirarki yang menganut prinsip desimal. Hirarki dimulai dari 10 kelas utama, yang dibagi menjadi 100 divisi, dan dibagi lagi menjadi 1000 seksi. Notasi dalam setiap seksi tersebut dapat ditambahkan lagi sesuai dengan kebutuhan.[5] Untuk 10 kelas utama, dapat dilihat seperti di bawah ini:
000 Computer science, information & general works;
100 Philosophy & psychology;
200 Religion;
300 Social sciences;
400 Language;
500 Science;
600 Technology;
700 Arts & recreation;
800 Literature;
900 History & geography.
Covid-19 berada pada kelas utama 600 tepatnya divisi 610 untuk pengobatan dan kesehatan. Termasuk juga dalam kelas tersebut, divisi 600 untuk teknologi secara umum, 620 untuk ilmu teknik, 630 untuk agrikultur, 640 untuk manajemen rumah dan keluarga, 650 untuk ilmu manajemen dan hubungan masyarakat, 660 untuk teknik kimia, 670 untuk manufaktur, 680 manufaktur untuk keperluan khusus, serta 690 untuk konstruksi dan pembangunan. Seluruh divisi tersebut berada pada kelas utama ini karena dinilai sebagai bagian dari bidang ilmu teknologi.
Sebagai penyakit pada sistem pernapasan Covid-19 merupakan yang memiliki di notasi 616.2, sama dengan sejumlah wabah lain seperti Hantavirus pulmonary syndrome. Lebih spesifik lagi, Covid-19 dapat diberikan notasi 616.241 yang diperuntukkan bagi koleksi terkait penyakit pneumonia atau kesulitan bernapas. Penentuan nomor ini sejalan dengan pendapat Beall yang ditulis dalam The Dewey Blog.[6] Jika sebuah buku khusus membahas wabah Covid-19 di Asia maka notasi yang diberikan yaitu 616.241 009 5. Tambahan notasi 009 diberikan dari Tabel 1 karena buku tersebut membahas wilayah yang spesifik. Tambahan tersebut disesuaikan dengan instruksi yang terdapat pada notasi 616.1-616.9. Sementara angka 5 ditambahkan dari Tabel 2 karena buku tersebut fokus membahas wilayah Asia.
Untuk buku yang fokus membahas wabah Covid-19 pada tenaga medis, maka notasi berubah menjadi 616.241 008 861. Notasi 0088 ditambahkan untuk menyatakan bahwa topik tersebut membahas kelompok pekerjaan dan agama tertentu dengan disesuaikan instruksi dari 616.1-616.9. Sementara tambahan 61 diambil dari 100 kelas utama DDC yaitu notasi 610 untuk kelas Kesehatan sesuai instruksi yang tercantum pada Tabel 1 untuk notasi 088. Selanjutnya, bahan perpustakaan yang membahas tentang penanganan pasien penderita penyakit Covid-19 dapat diberikan 362.196 241. Koleksi tersebut dikelompokkan dalam kategori pelayanan terhadap sekelompok orang, yaitu pasien dengan kondisi tertentu yang memiliki notasi 362.19. Sementara notasi tambahan 6241 diambil dari notasi 616-618, tepatnya pada 616.241. Tambahan tersebut didasarkan pada instruksi dari notasi 362.196-362.198.
Sebagai catatan, penulis tidak memasukkan koleksi tentang Covid-19 pada notasi 616.91 untuk penyakit akibat virus. Hal tersebut mengacu pada tajuk SARS[7] dan Hantavirus pulmonary syndrome[8], yang juga disebabkan oleh virus, dalam LC Subject Headings diberikan notasi 616.2. Pada notasi 616.91 juga terdapat instruksi bahwa Hepatitis, penyakit yang juga disebabkan oleh virus, tidak diberikan notasi tersebut melainkan 616.362 3 dan masuk dalam kelompok penyakit pada sistem pencernaan di notasi 616.3. Nomor-nomor ini tidak dapat ditemukan dengan menggunakan fasilitas pencarian yang ada pada Web Dewey. Hal tersebut dikarenakan belum ada kata kunci Covid pada Web Dewey. Sementara jika ditelusuri menggunakan kata kunci Corona atau Coronas akan diarahkan ke notasi 523.75 untuk Chromosphere and corona di kelas Astronomi dan 537.52 untuk Disruptive discharges di kelas Fisika.
Sebagai tambahan, bahan perpustakaan yang fokus membahas SARS-CoV-2 itu sendiri maka notasi yang diberikan yaitu 579.2. Notasi ini diperuntukkan bagi koleksi yang membahas virus dari hewan, vertebrata, dan ilmu virologi. Notasi juga dapat ditambahkan 072 dari Tabel 1 menjadi 579.207 2 sesuai instruksi pada notasi 579.2-579.8 jika bahan perpustakaan tersebut merupakan penelitian terhadap virus corona.
Penutup
Penerapan dalam penentuan notasi DDC tentunya dapat disesuaikan dengan kebijakan masing-masing perpustakaan. Spesifik atau tidaknya nomor juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Sehingga, bahan perpustakaan yang sama di perpustakaan yang berbeda, belum tentu memiliki notasi DDC yang sama persis. Namun, penulis berharap pustakawan juga terus menambah wawasan dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sebagai dasar penentuan notasi. Tidak hanya untuk kegiatan pengolahan, hal ini juga dibutuhkan dalam upaya peningkatan peran perpustakaan di masyarakat.
—–
Kata kunci:
Pengolahan Bahan Perpustakaan ; Klasifikasi Kompleks ; Dewey
Decimal Classification ; DDC ; Covid ; Corona ; Coronavirus ; Rizky Catur Utomo
[1] World Health Organization. WHO Director-General’s opening remarks at the media briefing on COVID-19 – 11 March 2020. Diambil 29 Maret 2020 dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: https://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19—11-march-2020
[2] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tentang Novel Coronavirus. Diambil 13 Maret 2020 dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID-19/TENTANG%20NOVEL%20CORONAVIRUS.pdf
[3] Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia. Diambil 29 Maret 2020 dari laman Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia: https://www.covid19.go.id/tanya-jawab/
[4] Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia. Diambil 29 Maret 2020 dari laman Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Republik Indonesia: https://www.covid19.go.id/
[5] Zulfikar Zen, Klasifikasi DDC 22: Buku Kerja (Depok: Program Studi Ilmu Perpustakaan FIB UI, 2007), hal. 22.
[6] Beall, Julianne. COVID-19 (Coronavirus disease 2019). Diambil 29 Maret 2020 dari laman The Dewey Blog: https://ddc.typepad.com/025431/2020/03/covid-19-coronavirus-disease-2019.html
[7] Library of Congress. LC Subject Headings. Diambil 13 Maret 2020 dari laman webdewey:
[8] Library of Congress. LC Subject Headings. Diambil 13 Maret 2020 dari laman webdewey:
