Oleh Wibowo Purnomohadi, Pustakawan Perpustakaan Kota Surabaya
Mencermati perkembangan perekonomian negara kita di masa pandemi ini semakin mengkhawatirkan, semua sendi kehidupan nampaknya secara bertahap mengalami dampak yang cukup signifikan, ditandai dengan kemampuan daya beli masyarakat terasa terpuruk tajam. Penundaan investasi dan ekspansi diberbagai usaha jelas terlihat.
Belum lagi dari berita maraknya pemutusan hubungan kerja di banyak industri kecil, sedang dan tinggi berakibat jumlah angka pengangguran cenderung naik, problematika harus segera dicarikan alternatif persoalannya, agar tidak melejitnya penambahan angka kriminalitas akibat rasa frustasi menyikapi kondisi hidup yang semakin sulit ini.
Perlu terobosan inovatif dan perubahan paradigma berfikir yang radikal, mentalitas ketergantungan dari mengabdi ke perusahaan harus berbalik arah menjadi berusaha mandiri. Pola fikir yang semula hanya sebagai pelaksana harus dirubah menjadi manajer dengan sikap mental yang mampu menjalani konsekuensi resiko dan harus tanpa lelah berkreasi mencoba konsep usaha baru untuk berdikari diatas kemampuan sendiri,
Di posisi inilah sebenarnya terciptanya mental pengusaha tumbuh dan berkembang, diawali dari pengusaha kecil tumbuh menjadi pengusaha menengah hingga berkembang syukur-syukur menjadi pengusaha yang besar. Mungkin saja Tuhan mengutus covit 19 agar manusia menemukan hikmah dari setiap kejadian agar bisa memaksimalkan akal budinya menemukan gagasan baru.
Seharusnya dimasa sulit seperti ini timbul kesadaran kolektif dan bergerak simultan untuk menjadikan semua sumber informasi sebagai inspirasi peluang jawaban membuka solusi terciptanya usaha kreatif dengan memanfaatkan keselarasan potensi sumber daya alam dan manusia diimbangi dengan kecerdikan membaca pangsa pasarnya juga..
Pustakawan sebagai profesi yang kaya dengan strategi penyiasatan, buah dari pengayakan dan pemanfaatan informasi yang setiap hari mereka geluti, bang tentu punya peran strategis di garda terdepan untuk mengambil sikap tanggap dan responsif mendampingi semua masyarakat pemustaka yang terdampak pandemi.
Caranya dengan memberdayagunakan kemampuan penelusuran dan temu balik informasi dari sumber-sumber informasi dengan dukungan teknologi informasi yang mumpuni, baik melalui repository yang bisa diakses dengan bebas baik dari dalam maupun luar negeri, maupun mengoptimalkan onesearch milik Perpusnas. Di sini andil pustakawan dan perpustakaan diharapkan bisa memposisikan diri sebagai agen perubahan sosial dengan mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus meningkatkan kesejahteraan umum yang tertuang dari Undang-Undang Dasar kita. Titik kulminasinya adalah terbentuknya komunitas di masyarakat berbasis dari persamaan kegemaran dan bakat terfokus bidang tertentu yang secara berkala dan berkesinambungan bertemu dalam bentuk forum group diskusi mengejawantahkan peran perpustakaan layaknya sebagai ruang publik. “Perpustakaan yang buruk hanya membangun koleksi. Perpustakaan yang bagus membangun layanan. Perpustakaan yang hebat membangun komunitas.” R.David Lankes, Expect More : Demanding Better Libraries for today’s Complex World, 2012.
Disinilah peran pustakawan bisa berperan sebagai profokator, pelopor dan promotor sebuah pertarungan adu gagasan dengan sesekali menghadirkan pakar yang kompeten di tema diskusi yang telah terjadwal dengan baik sebelumnya. Reposisi pustakawan dan perpustakaan ditempat yang terhormat ini, sudah menjadi keniscayaan di era kesejagatan ini. Harapan besarnya agar bisa didayagunakan menjadi pendamping di setiap solusi yang mungkin timbul dan tengah dihadapi pemustakanya. Tentu saja iklim kompetisi diberbagai bidang usaha yang semakin keras, persaingan usaha tak terbendung. Otomatis adu konsep kreatifitas pelaku usaha menjadi kekuatan terbesar untuk mampu bertahan dan lihai membaca peluang pasar dari produk usaha apapun.
Sebagai ruang publik, perpustakaan sangat layak apabila memprakarsai dan menobatkan dirinya menjadi sebuah tempat arena pertarungan gagasan ini, dengan memanfaatkan fasilitas kebebasan menelusur informasi yang tak berlimit. Tinggal bagaimana melalui proses kreatif inisiator progam ini nanatinya mampu menghadirkan semua potensi intelektual berbagai profesi yang peduli dan berempati terhadap nasib bangsanya sekarang dilibatkan dalam memformulasikan sebuah gerakan penyadaran dan kerja-kerja implementatif dengan dinamis.
Kira-kira seperti inilah nanti gambaran wujud manajemen pengetahuan (knowledge management) hadir merefleksikan peran serta strategisnya pustakawan dan perpustakaan menjadi biang kegiatan yang solutif serta mampu menghimpun semua masyarakat terdampak menemukan kembali rasa optimisme yang sempat hilang. Mendampingi menemukan pasion baru untuk usaha rintisan yang terinspirasi dari hasil konseling terhadap tim yang terbentuk dari buah hasil dari Forum Group Diskusi tersebut.
Pelibatan semua unsur elemen masyarakat barang tentu akan memperkuat program ini dalam bentuk bingkai sinergi kolaboratif. Pemerintah melalui dinas-dinas terkait wajib disertakan tentunya, praktisi sebagai narasumber yang sangat dinamis diharapkan berpartisipasi menebar pengalaman dan langkah terobosan cerdasnya, akademisi sebagai penyedia sejumlah pakar di berbagai bidang dengan dukungan lembaga pengabdian masyarakat dan lembaga penelitiannya diharapkan terus menjadi penyanggah yang kuat untuk melakukan kajian-kajian apabila diperlukan, teman-teman media yang potensial bisa mendukung penyebaran informasi dari notulensi setiap langkah yang diambil dari program ini dengan harapan ada respon balik yang mungkin saja timbul dari animo masyarakat yang tergugah hatinya untuk ikut nimbrung, pihak swasta jangan diposisikan hanya sebagai penyandang dana lewat CSR-nya saja namun bisa dirangkul untuk juga memikirkan peluang pasar sebuah produk.
Dari gambaran ekosistem baik bentuk dan sedikit alur kerja masing-masing unsur diharapkan akan muncul gagasan dari wacana diatas. Tentu saja akan semakin mengefektifkan dan mengefisiensikan sinergi kolaboratif ini. Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca akan menjelma sebagai gerakan perubahan sosial baik dari pola fikir maupun pola tindak masyarakat secara luas. Kekuatan program ini ada pada kekompakan dan militansi unsur-unsur yang terlibat didalamnya, sebagai bahan pertimbangan hendaknya lebih fleksibel apabila dibentuk dalam fokus bidang-bidang yang lebih kecil misalkan: pertanian, peternakan, UKMK berbasis ibu rumah tangga ataupun karang taruna, usaha konten kreatif multimedia dan lain-lain secara dinamis bak bola salju akan menggelinding mengikuti perkembangan dilapangan. Masih perlu banyak “tafsir kontemporer” bagaimana konsep transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial mewujudkan literasi untuk kesejahteraan.
Yang pasti kesuksesan program ini harus bisa juga mempertemukan dua isu “Indikator Kinerja Kunci Urusan Perpustakaan” sebuah indikator capaian kinerja perpustakaan umum yakni: Nilai tingkat kegemaran membaca masyarakat dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat. Lantas bagaimana menemukan simpul-simpul benang merahnya, butuh pendalaman dan kajian tentunya yang lebih dalam, namun yang pasti sangat tidak elok jika capaian kinerja hanya berwujud angka saja, dokumentasi perjalanan menuju angka capaian tersebutlah yang senantiasa harus menjadi perhatian kita bersama. Titip Indonesia.
