Phnom Penh : Wisata Edukasi, Museum hingga Istana Kerajaan

Oleh: Suharyanto

Perjalan wisata di Phnom Penh, 22 Juni 2019 merupakan wisata dengan tim delegasi 1st Executive Board Meeting of The 18th Congress of Southeast Asian Librarians (CONSAL XVIII), 21-222 Juni 2019 di hotel Sun Way Phnom Penh. 

Keiikutsertaan saya adalah sebagai tim pendamping delegasi Indonesia yang diwakili oleh Syamsul Bahri, Zulfikar Zen, dan Farli Elnumeri. Tulisan tentang  1st Executive Board Meeting of The 18th Congress of Southeast Asian Librarians (CONSAL XVIII), 21-222 Juni 2019 dimuat pada bagian tersendiri

Phom Penh

Phnom Penh merupakan ibu kota negara Kamboja, dan juga sebagai pusatpemerintahan, ekonomi dan wisata budaya. Budaya adalah faktor yang sangat penting dari pembangunan ekonomi karena hubungannyadengan gaya hidup, wilayah geografis dan dan hubungan erat antara pendidikan dan masyarakat[1].  

Wisata budaya telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir ini.Perpustakaan dan museum sebagai institusi budaya dapat berkontribusi signifikandalam pengembangan wisata budaya. 

Wisata budaya ala pustakawan di Phnom Penhakan menjelah 4 tempat wisata budaya, yaitu Perpustakaan Nasional Kamboja (TheNational Library of Combodia), Perpustakaan Hun Sen (Hun Sen Library), Museum Nasional Phnom Penh (The National Museum of Phnom Penh), dan Istana Kerajaan Kamboja (Cambodia’s Royal Palace).   

The National Library of Combodia (NLC)

Pintu Gerbang Perpustakaan Nasional Kamboja
Pintu Gerbang Perpustakaan Nasional Kamboja

Perpustakaan Nasional Kambojaatau The National Library ofCombodia (NLC) dibangun pada tahun 1924 selama pemerintahan kolonial Perancis dan dimaksudkan untuk para peneliti Perancis. 

Dikembalikan ke Kamboja setelah pendudukan kolonial runtuh pada tahun 1953[2]. Pada saat ini NLC dibawah kementerian Kebudayaan dan Kesenian Kamboja.  Direktur NLC adalah Mrs. Khlot Vibolla. NLC beralamat di Christopher Howes, Street 92, Daun Penh, Phnom Penh, Cambodia. Telepon (+855) 12 95 15 32. Email kvibolla@yahoo.com. 

Misi dari NLC adalah mendapatkan, mengumpulkan, danmelestarikan pengetahuan warisan bangsa, termasuk dokumentasi kesusastraansebagai warisan bangsa. Sedang moto NLC adalah “force binds for moment,ideas link forever” . 

Data terbaru NLC tahun 2019 menunjukan : (1) Jumlahpengunjung perpustakaan sebanyak 14.061 pengunjung . (2) Jumlah koleksi, buku sebanyak 7.500 judul, serial 6.050 eksemplar, dan belum termasuk koleksi khusus.

(3) Koleksi digital sebanyak 20.000 jilid. NLC berfungsi sebagai  perpustakaan umum, sehingga setiap orang dapat berkunjung, membaca dan memanfaatkan fasilitas yang ada di NLC. 

Bagi pengunjung yang akan meminjam buku untuk dibaca di rumah disyaratkan harus terlebih dahulu menjadi anggota dengan membayar iuran anggota sebanyak 1 dollar US. Pada tahun 2021 NLC akan menjadi tempat penyelenggara CONSAL XVIII.  

Hun Sen Library (HSL)

Salah satu Gedung Perpustakaan Hun Sen, Royal University of Phnom Penh

Perpustakaan Hun Sen- Hun Sen Library (HSL) Royal University of Phnom Phen, diresmikan pada tanggal7 Januari 1997 oleh Perdana Menteri Hun Sen. 

Pembangunan HSL dengan mendapatkandana bantuan dari Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Pada tahun 2011mendapatkan bantuan keuangan dari Bank Dunia. 

Luas bangun 4.160 meter persegi,dengan fasilitas yang modern dan lingkungan yang nyaman bagi pengunjung dalammenelusur informasi dan pengetahuan.

Direktur HSL, Mr. Chhian Khan. Alamat HSL,Royal University Of Phnom Phen, RussianFederationBlvd.Tuol Kok, Phnom Phen,Cambodia. Email hunsenlib@rupp.edu.kh.  Jam buka NLC, Senin-Jumat pukul 7.30 am -5.00 pm.Sabtu, 8.00 am-4.00 pm. Berdasarkan data tahun 2012, koleksi HSL lebih dari100.000 volume terdiri dari buku, video, CD, dan koleksi digital. Dan lebihdari 800 pengunjung setiap harinya. NLC juga menyediakan koleksi buku khusustentang kamboja sebanyak 3.500 judul. 

The National Museum of Phnom Penh 

Salah satu Menara Museum Nasional Kamboja

          

Museum Nasional Phnom Penh – The National Museum of Phnom Penh (NMP)  mulai dibangun pada tahun 1917,  dirancang oleh George Groslier sebagai kurator, Dalam masa periode penjajahan Perancis (1863-1953) dan diresmikan pada tanggal 13 April 1920. Dan pada tahun 1956-1966 Museum dilanjutkan pengembangannya oleh Pierre Dupont, Jean Boisselier dan Madeleine Giteau. 

Museum  pada awalnya digunakan sebagai  “The Preah Siswath School dan  dikenal dengan sebutan “The Phom Penh Museum.

Selanjut Museum berubah menjadi “East Gallery of the Museum” dan disebut jugadengan “The Museum Krong Kampuchea Dhipati. 

Pada masa pendudukan PemerintahanPerancis di IndoChina The Krong Kampuchea Dhipati, berubah nama lagi menjadiAlbert Sarraut Museum. 

Pada tahun 1996, museum berubah nama lagi menjadi “TheNational Museum of Cambodia”.  Pada tahun1979 Museum berubah nama menjadi “Archaeological Museum”. 

Dan pada saat Museumdipimpin oleh Direktur Mr. Pich Ken, akhirnya Museum berubah nama menjadi  “The National Museum of Cambodia” “juga AlamatNMP, on Street 13 in central Phnom Penh. Pada tahun 1966-1975 Pengelolaan museum dijalankan oleh 2 kurator kamboja, Mr. Chea Thay Seng dan Mr. Ly Vou Ong.  

Museum Nasional Kamboja terletak di Pusat Kota Phnom Penh Streets 13 dan 178. Museun dibuka setiaphari, mulai pukul08:00 am sampai 17:00 pm setiap hari. Tiket masuk seharga $ 5 untuk usia orang asing, usia 10 hingga 17 tahun, $ 10 orang asing usia 18 tahunke atas, 500 riel untuk warga Kamboja. Sedangkan untuk anak-anak dan kelompok sekolah tidak membayar tiket masuk.

Museum berisi peninggalan Khmer kuno dalam bentuk arsitektur dan patung. Khmer kuno juga meninggalkan banyak karya seni, terutama terkait dengan dewa dalam Hinduisme dan Buddha. Museum juga berisi benda-benda yang digunakan dalam upacara keagamaan serta peralatan rumah tangga.

Istana Kerajaan Kamboja adalah salah satu tempat wisata paling popular di Kota PhnomPhen. Mulai dirancang pada tahun 1865 dengan arsitek oleh Neak Okhna TepnimithMak untuk mendesainnya menjadi lahan megah yang terbuat dari marmer, emas, danbatu berharga lainnya yang cocok untuk seorang raja, dengan konstruksi yangdilakukan oleh Protektorat Prancis pada tahun 1866. Kota ini secara resmidiresmikan sebagai sebagai Ibu kota pada tahun 1866.

[1] tosic,violeta. 2010. The role of libraries in the development of cultural tourism Withspecial emphasis to the Bibliotheca alexandrina in egypt

[2] SomPanha. 2005. https://www.khmertimeskh.com/31980/getting-to-know-the-national-library-of-cambodia/

[1] tosic,violeta. 2010. The role of libraries in the development of cultural tourism Withspecial emphasis to the Bibliotheca alexandrina in egypt

[2] SomPanha. 2005. https://www.khmertimeskh.com/31980/getting-to-know-the-national-library-of-cambodia/

link berita: https://www.kompasiana.com/mallawa/5d105a110d823018412dcdc2/1st-executive-board-meeting-of-the-18th-congress-southeast-asean-librarian-association-consal-xviii-21-22-juni-2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 14 =