Pelibatan Milenial dengan perpustakaan di Singapura

Paparan Direktur Perpustakaan Nasional Singapura

Generasi Milenial sering disebut sebagai generasi yang membawa disrupsi.  Hal ini merupakan tantangan bagi Perpustakaan Nasional dan perpustakaan di manapun kata Tan Huism. Pandangan ini disampaikan beliau dalam paparannya di Seminar. Tan Huism, Direktur National Library Board of Singapore, dalam paparannya menerangkan bahwa dalam rangka melibatkan dan menghubungkan perpustakaan dengan generasi milenial, Singapura  melakukan program-program literasi membaca yang sistematis. Program ini dimulai dari usia 0-6 tahun, pada tahapan ini yang diajarkan adalah orangtua dari anak.

Orangtua diajarkan cara mengajarkan membaca yang menyenangkan, menceritakan cerita kepada anak dan kegiatan lainnya. Selanjutnya program untuk anak-anak usia 7-12 tahun, remaja dan program untuk anak-anak yang berada di persimpangan jalan, yaitu memutuskan untuk melanjutkan ke universitas, politeknik atau bekerja. Pada anak-anak usia 7-12 tahun, program-program literasi seperti mendengar storytelling, melakukan storytelling dan untuk mengajak anak aktif di perpustakaan, perpustakaan menciptakan sebuah permainan kartu. Setiap anak yang meminjam buku di perpustakaan akan diberikan kartu (seperti yugi oh).  Kemudian perpustakaan akan mengadakan kompetisi permainan kartu tersebut. Pada remaja, ditantang untuk membuat cerita untuk story telling dan menceritakannya kepada anak-anak.

Fenomena berita palsu atau di Indonesia, biasa dikenal sebagai Hoax, juga menjadi sebuah fenomena dan perhatian di Singapura. Tan Huism, menjelaskan bahwa Perpustakaan Nasional Singapura memperkenalkan S.U.R.E, yaitu Source, Understand, research, Evaluate sebagai kampanye literasi informasi bagi masyarakat Singapura. Untuk menarik dan menjelaskan kepada milenial dengan lebih baik, kampanye ini menggunakan media infografis, dalam bentuk komik dan video. Selain itu, juga terdapat kompetisi yang berhubungan dengan hal tersebut yaitu verified facts competition (dengan menggunakan sumber daya perpustakaan).  Lebih lanjut, Tan menegaskan pentingnya bagi para pustakawan untuk menyediakan resource-resource dalam bentuk digital dan menyebarkan (mempromosikannya) melalui berbagai platform sosial media seperti Instagram, Youtube, Facebook, Twitter dan Whatsapp. Bila perlu pustakawan dapat membuat Whatsapp group bagi penggunanya guna mempercepat penyebaran informasi.

 Menutup sesinya, Tan mengatakan bahwa profesi pustakawan di Singapura belum lah menjadi primadona namun demikian imbalan itu tidak hanya dalam bentuk uang melainkan perasaan ketika melihat pengguna berhasil.

Penulis : Khosy AM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × two =