Pustakawan harus terlibat aktif dalam Gerakan Pembangunan Global yang dikenal dengan SDG’s, suatu kesepakatan bersama dalam bentuk putusan PBB kepada masyarakat Indonesia. Keterlibatan aktif ini melalui pendampingan pembangunan keluarga berbudaya kerja dan usaha termasuk pedesaan. Peran ini dengan cara perpustakaan sebagai pendamping masyarakat melalui pembinaan dan peningkatan kemampuan masyarakat yang berpeeran sebagai pusat pemberdayaan keluarga. Pandangan ini disampaikan Prof. Dr. Haryono Suyono dalam paparan singkatnya pada kegiatan Diskusi Kepustakawanan Indonesia yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI) bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional RI.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Haryono Suyono yang juga Ketua Dewan Pakar Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi ini berpendapat bahwa perpustakaan masuk desa dapat melalui tiga jalur. Jalur pertama dalam bentuk kehadiran fisik perpustakaan di setiap desa. Jalur kedua melalui internet seiring dengan Era 4.0. Adapun jalur ketiga melalui kombinasi perpustakaan desa secara fisik serta memfasilitasi dan hadir dalam dunia maya. Namun semuanya perlu peran pustakawan yang ikhlas membantu keluarga dalam menyajikan bahan informasi kepada mereka serta mengugah keluarga kaya untuk peduli dan membantu keluarga miskin. Pustakawan menyajikan bahan bacaan yang bermanfaat untuk meningkatkan potensi kemampuan keluarga. Peran pustakawan sebagai fasilitator informasi untuk keluarga agar makin berdaya mencapai kesejahteraan.
Pesan yang tidak jauh berbeda disampaikan oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Drs. Muhammad Syarif Bando, dalam pidato pembukaan kegiatan yang bertemakan “Peran strategis pustakawan dalam pengembangan literasi masyarakat untuk kesejahteraan”. Hal ini seiring dengan kepustakawanan secara umum di era global.

Diskusi Kepustakawanan Indonesia kali ini juga meluncurkan 2 hal, yaitu peluncuran Asta Etika Pustakawan Indonesia dan peluncuran buku yang diterbitkan oleh IPI Press
Peluncuran Asta Etika Pustakawan Indonesia
Dr. Zulfikar Zen dalam kegiatan yang dihadiri lebih dari 180 orang ini memaparkan Asta Etika Pustakawan Indonesia yang terdiri dari,
1. Melaksanakan tugas sesuai dengan harapan pemustaka;
2. Meningkatkan keunggulan kompetensi setinggi-tingginya;
3. Membedakan antara pandangan pribadi dan tugas profesi;
4. Menjamin tindakan dan keputusannya berdasarkan profesionalisme;
5. Menjunjung tinggi hak perorangan atas informasi dan menyediakan akses tak terbatas;
6. Melindungi hak privasi pemustaka dan tidak bertanggung jawab atas penggunaan informasi;
7. Mengakui dan menghormati Hak Kekayaan Intelektual;
8. Menjalin kerjasama dan saling menghargai teman sejawat.

Peluncuran Buku IPI Press
Kegiatan ini juga meluncurkan berbagai terbitan IPI Press. Hal ini bertepatan dengan Hari Aksara Internasional yang jatuh pada tanggal 8 September, Pada kesempatan tersebut, PP IPI memerlihatkan 8 buku yang akan diterbitkan.

Dalam perencananaannya, Komisi Penerbitan membagi 3 jenis terbitan, yaitu terbitan organisasi, seperti Buku AD/ART dan Kode Etik Pustakawan Indonesia, Prosiding kegiatan, Laporan Tahunan. Jenis yang kedua, terbitan pengembangan kepustakawanan, berisi karya-karya yang bersifat teori dan praktik dalam ilmu Perpustakaan dan informasi. Adapun jenis ketiga, terbitan karya pustakawan yang merupakan terbitan sekunder dan tersier, seperti abstrak, anotasi, kamus, dan sejenisnya. Ketiga jenis terbitan ini terbit dalam 2 bentuk, tercetak dan digital. Terbitan tercetak dalam jumlah terbatas sesuai prakiraan pasar, sedangkan digital akan bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional RI melalui I-Pusnas. Dalam peluncuran ini, naskah yang telah siap terbit pada tahun 2019 ini terdiri dari:
- Pengorganisasian Informasi : kumpulan tulisan. Buku ini merupakan karya Sulistyo Basuki dan Suharyanto.
- Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Ikatan Pustakawan Indonesia serta kode etik Ikatan Pustakawan Indonesia.
- 65 tahun asosiasi pustakawan di Indonesia 1953-2018
- Seri pustakawan berkarya, yang merupakan kumpulan anotasi buku hasil seleksi pustakawan bidang pengolahan, Perpustakaan Nasional RI, yang terdiri dari:
- 85 buku anak pintar
- 85 buku kreasi
- 85 buku resep
- 85 buku budi daya, dan 85 buku sastra
Sesi Diskusi Kepustakawanan Indonesia
Sesi klimaks dari diskusi yang dihadiri tidak hanya para pustakawan, namun juga mahasiswa ilmu perpustakaan dan informasi, dan anggota masyarakat pemerhati perpustakaan. Sesi ini menghadirkan nara sumber T. Syamsul Bahri, S.H, M.Si. Ketua Umum PP IPI dan Dian Arya Susantim S.sos. Pustakawan berprestasi tingkat Nasioal 2019. Diskusi ini dipandu oleh Luthfiati Makarim, SS., MM., Kepala Bidang Layanan Koleksi Umum, Perpustakaan Nasional RI yang juga Pengurus Pusat IPI.
Dalam paparannya T. Syamsul Bahri, berpendapat bahwa transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial bertujuan untuk menurunkan kemiskinan informasi dengan transformasi perpustakaan umum menjadi pusat belajar masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemanfaatan perpustakaan umum serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang literasi informasi, dan berbasis TIK. Menurutnya, pustakawan melalui organisasi profesi Ikatan Pustakawan Indonesia dalam konteks kepustakawanan dapat berperan untuk:
- Menjamin kompetensi profesional pustakawan,
- Meningkatkan status profesi dg menentukan persyaratan, standar, dan norma minimal pustakawan,
- Meningkatkan mutu profesi melalui berbagai kegiatan dan aktifitas kepustakawanan,
- Mengawasi kegiatan dan prilaku pustakawan dg kode etik, tata tertib disertai dg sanksi-sanksinya,
- Memonitor peraturan perundang-undangan yg mempengaruhi perpustakaan dan layanan,
- Menciptakan, memelihara dan mendorong manajemen layanan perpustakaan yg memuaskan pemustaka,
- Meningkatkan kajian dan penelitian bidang perpustakaan dan informasi,
- Melakukan kerjasama dengan asosiasi sejenis dan badan-badan lain, nasional atau internasional.

Adapun Dian Arya Susanti S.Sos., M.T.. dalam paparanya menyampaikan bahwa dalam konteks United Nations 2030 Agenda, yang merupakan sebuah program yang inklusif dan terintegrasi dengan 17 Sustainable Development Goals (SDGs) framework, yang diantaranya adalah pembangunan perekonomian, lingkungan dan sosial, IFLA percaya bahwa dengan meningkatkan akses pada informasi dan pengetahuan kepada seluruh masyarakat dunia, yang dibantu dengan ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi,. Hal tersebut akan membantu pembangunan berkelanjutan serta meningkatkan taraf hidup masyarakat.
“perpustakaan adalah kunci yang bisa membantu tujuan pembangunan dengan memastikan ketersedian informasi yang yang cepat, tepat, dan relevan yang tentunya bisa membantu menghapuskan kemiskinan dan ketidaksetaraan, memperbaiki sektor pertanian, menyediakan Pendidikan berkualitas, dan menyokong pembangunan di bidang kesehatan, kebudayaan, riset dan inovasi”.
Peran besar ini tentu saja butuh kemampuan pustakawan yang mumpuni. “Kebanyakan pustakawan tak punya idealisme, enggak berani berargumen, malas memberikan ide, cuma patuh, Untuk itu, pustakawan harus berani membuat perubahan. Keluar dari zona nyaman dan berpikir bertindak out off the box,” pungkasnya.



