Kemampuan Dasar Menjadi Pustakawan

Bersama Membangun Meritokrasi

Milenial dan generasi Alpha yang muncul pada masa kini merupakan tantangan yang dihadapi oleh berbagai sektor. Perubahan perilaku konsumen, perubahan kebutuhan dan cara transaksi membuat para produsen berpikir ulang untuk mempertahankan metode lama mereka. Perpustakaan dan Pustakawan begitu juga, bersaing mengikuti perkembangan zaman dan perubahan generasi. Perubahan ini tentunya membawa pengaruh terhadap tuntutan kemampuan bagi setiap pustakawan. Apalagi revolusi industri 4.0 yang digadang-gadang memiliki kemajuan dan kecepatan teknologinya mampu bersaing dengan pustakawan, membuat pustakawan harus meningkatkan kreativitasnya serta meningkatkan kemampuan dasarnya (librarian skill cores). Kemampuan pustakawan bervariasi tergantung pemustaka dan ruang lingkup layanan yang dilayaninya, tetapi untuk kemampuan dasar tentu saja dimana pun layanan tersebut berada dan siapapun penggunanya maka pustakawan harus memilikinya. Pustakawan masa kini wajib memiliki kualitas personal yang memiliki seperti:

  • Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi;
  • Memiliki hasrat kuat untuk terus belajar;
  • Bersahabat;
  • Kemampuan pengorganisasian yang kuat;
  • Tidak gagap teknologi;
  • Memahami etika dan nilai – nilai etis;
  • Menjadikan membaca dan menulis sebagai salah satu hobi;
  • Berkepribadian kuat;

Kualitas personal tersebut bisa didapatkan dari pengalaman berorganisasi dan bergaul dengan lingkungan sosial. Tentu saja pendidikan formal tidak memberikan kualitas personal tersebut secara mudah karena penerima pendidikan harus mempraktikkannya di lingkungan sekitar. Pendidikan formal pustakawan merupakan salah satu hal yang wajib ditempuh. Lulus dari Program Studi Ilmu Perpustakaan tentunya akan memudahkan langkah untuk menjadi pustakawan. Selain pendidikan formal tersebut ada kompetensi dasar yang harus dimiliki pustakawan masa kini yaitu:

  • Mampu melayani dan berkomunikasi dengan komunitas perpustakaan baik itu pemustaka aktual atau warga di sekitar perpustakaan;
  • Mampu menganalisis sistem, alur kerja, dan berbagai prosedur perpustakaan dalam rangka pengembangan sistem perpustakaan;
  • Memiliki kemampuan menguasai penggunaan internet terutama penelusuran informasi, dan berbagai piranti lunak perpustakaan baik di komputer atau pun telepon genggam;
  • Menguasai bahasa lain selain bahasa negara dan bahasa ibu;
  • Mampu membuat laporan kinerjanya, menyajikannya secara jelas dan baik oral maupun visual;
  • Mampu mengelola hubungan baik dengan pemustaka, pustakawan, warga sekitar perpustakaan, tokoh masyarakat, dan atasannya;
  • Kreatif dalam mengembangkan program dan layanan perpustakaan;
  • Mampu berkomunikasi dengan baik, baik secara verbal maupun tulisan;
  • Bersikap positif dan baik serta mampu melayani pemustaka dengan kebutuhan khusus;
  • Memahami etika komunikasi melalui sarana internet;
  • Berliterasi tinggi;

Seseorang yang baru saja lulus pendidikan formal untuk menjadi pustakawan tentunya tidak akan mendapat kemampuan dasar tersebut secara instan. Magang di berbagai jenis perpustakaan adalah cara yang bisa dilakukan untuk mengasah dan mendapatkan kemampuan dasar yang harus dimiliki pustakawan. Perpustakaan di Indonesia tentunya menerima para mahasiswa atau bahkan pustakawan yang ingin magang untuk mengasah kemampuannya. Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Perguruan tinggi, hingga Perpustakaan umum di setiap kota tentunya menjadi sasaran empuk untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan kepustakawanan.

Kemampuan yang dikuasai pustakawan selain kemampuan dalam kepustakawanan adalah kemampuan untuk meningkatkan nilai – nilai kemanusiaan ditengah perkembangan pesat teknologi. Pustakawan adalah pelopor pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan nilai dan norma kemanusiaan. Sehingga jika pertanyaan ini muncul, Apakah kemampuan dasar ini penting? Tentunya sangat penting bahkan wajib ditambah kemampuan lain. Abid Husain (2019) dalam artikelnya yang berjudul Industrial Revolution 4.0 : Implication to Librares and Librarians menyatakan jika saat ini sudah sampai pada revolusi industri 4.0 maka pustakawan dan perpustakaan harus melibatkan diri mereka untuk sampai pada revolusi 5.0 yaitu kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan. Hal tersebut merupakan dua (perpustakaan dan pustakawan) perubahan dari memahami apa koleksi perpustakaan menjadi apa koneksi perpustakan. Dengan kata lain masa revolusi 5.0 bagi pustakawan bukan hanya memahami pengetahuan mengenai koleksi perpustakaan melainkan memahami pengetahuan mengenai pemustaka mereka.

Bacaan Lebih Lanjut

Abid, H. (2019, Januari 1). Industrial revolution 4.0: implication to libraries and librarians. Library Hi Tech News. https://doi.org/10.1108/LHTN-05-2019-0033

ALA American Library Association. (n.d.). What Librarians Need to Know. Diambil 1 Februari 2020, dari ALA American Library Association website: http://www.ala.org/educationcareers/careers

J, S. (n.d.). Core Competencies Of Librarianship. Diambil 1 Februari 2010, dari University of Southern California website: http://www.mastersinlibraryscience.net/core-competencies-of-librarianship/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − 1 =